Senin, 23 Maret 2009

Tafakkur Tentang Bintang (reloaded)

kosan, kamis, 5 maret 2009, 21:48, aku pulang setelah sebelumnya berada di lingkar mentoring. kuraih satu buku dari tengah tumpukan buku tanpa rak di kamarku. “tafsir fi zhilalil qur’an -di bawah naungan qur’an-” jilid 12 (juz 29) karya sayyid quthb terbitan robbani press, itulah judulnya. malam itu ia jadi temanku menyantap makan malam yang agak terlambat.

alasan kupilih buku tersebut adalah karena tugas pekan depan menyampaikan tentang surat yang sudah dihafal: al-mulk. scanning cepat sontak menjadi lambat saat bertemu penjelasan ayat 5:

“sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang” [QS Al-Mulk (67) : 5]

teringat tulisanku ‘tafakkur tentang bintang’ yang berisi kesanku pribadi tentang bintang. kali ini aku menghadapi sebuah kesan yang mendalam tentang bintang dari seorang sayyid quthb. berikut kukutip langsung.


pemandangan bintang-bintang di langit memang sangat indah. hal ini tidak diragukan lagi. suatu keindahan yang memikat hati. keindahan yang senantiasa baru dan beraneka ragam bentuknya seiring dengan perbedaan waktunya. keindahan pemandangannya berbeda-beda mulai dari pagi sampai petang, mulai dari terbit sampai tenggelam, mulai dari malam yang purnama sampai kepada malam yang gelap. dan berbeda-beda pula cuacanya mulai dari cuaca yang jernih sampai kepada cuaca yang berkabut dan berawan. bahkan pemandangannya berbeda-beda dari satu saat ke saat yang lain, dari satu teropong ke teropong yang lain, dan dari satu sudut ke sudut yang lain. semuanya indah dan semuanya memikat hati.

bintang kejora yang betengger nun jauh di sana sendirian, terlihat bagaikan mata yang indah berkilauan, cahayanya memancarkan kecintaan dan seruan!

dan di sana ada dua bintang yang terpisah dari lainnya, seakan-akan terbebas dari keramaian, seakan-akan keduanya sedang berbicara secara rahasia!

kumpulan bintang-bintang yang tersebar di sana-sini dalam gugusannya masing-masing, seakan-akan mereka berada dalam riungan bergadang di pesta besar langit raya, mereka berkelompok dan terpisah-pisah seakan-akan menemani malam hari dalam suatu perayaan.

angkasa yang luas ini tidak membuat pandangan mata bosan menatapnya, dan pandangan mata tidak dapat menjangkau keseluruhannya.

al-qur’an mengarahkan jiwa manusia untuk menatap keindahan langit dan keindahan semesta alam seluruhnya, karena mengetahui keindahan alam wujud merupakan sarana yang paling singkat dan paling benar untuk mengetahui keindahan Pencipta alam wujud ini. dan pengetahuan inilah yang bisa mengangkat martabat manusia sampai kepada cakrawala tetinggi yang dapat diraihnya. karena pada saat itu dia sampai kepada titik yang disitu dia bersiap untuk menjalani kehidupan yang kekal, di alam yang bebas lagi indah, bersih dari pencemaran alam bumi dan kehidupannya. dan sesungguhnya detik-detik paling bahagia di hati manusia ialah detik-detik saat dia berinteraksi dengan keindahan kreasi Ilahi yang ada di alam ini. itulah detik-detik yang mempersiapkan dan memudahkannya untuk berhubungan dengan keindahan Ilahi, yaitu Dzat-Nya yang kelak ia lihat dan ia tatap.

usai paragraf itu, reflek aku mendongak ke atas. namun yang tampak adalah langit-langit kamar diterangi lampu. tidak ingat apakah ada aktivitas lain yang kulakukan setelah membaca buku itu, ataukah aku langsung rebah tidak sadarkan diri.

Sabtu, 28 Februari 2009

Pelajaran 24 Jam

sabuga, sabtu 28 februari 2009, 06:00. aku datang dari himpunan -tempat tidurku semalam- untuk jogging yang memang rutin kulakukan tiap weekend. rintik-rintik hujan ringan tidak mengurungkan niatku untuk lari pagi. lintasan lari tidak seramai biasanya, maklum gerimis. namun aku, dan beberapa orang yang tetap ‘memaksakan’ untuk jogging, tetap bersemangat berolahraga. benar saja, gerimis ringan itu berjalan stabil, tidak mengganggu. lalu usai melahap 2km -dari total jarak lari 4km yang kucapai hari itu- hujan berhenti.

pelajaran 1: jangan biarkan gangguan kecil menghalangi pencapaian yang lebih besar. seekor singa tidak membiarkan kerumunan lalat di sekitar mengusik perhatiannya, karena ia membidik target rusa yang lebih berharga.

kosan, 13:00. tanpa terlalu lama melepas lelah, aku langsung mandi dan mencuci tumpukan pakaian serta sepatu yang kupakai dalam sepekan ini. teman-teman kos memutuskan untuk jalan-jalan mengisi sabtu siang itu. saat ditanya “emang mau beli apa di pameran komputer bee mall?”, sebagian kami hanya menjawab “nyari-nyari aja”. perjalanan jadi lebih jauh karena kami (berlima di atas tiga motor) menempuh jalan memutar untuk menghindari polisi. masalahnya salah seorang dari kami tidak kebagian persediaan helm standar untuk dipakai (dan akulah orang yang ‘malang’ itu). sampai di bee mall mulailah kami ‘mencari-cari’ tanpa membeli apapun. agar tidak pulang dengan tangan hampa, kami kemudian menuju kedai bakso terkenal di sekitar bip. sialnya kedai penuh dan bakso habis.

pelajaran 2: jangan pernah melakukan sesuatu tanpa memiliki rancangan tujuan.

pelajaran 3: melakukan pelanggaran/perbuatan buruk itu menyusahkan dan menekan hati. menaati peraturan serta berbuat baik itu memudahkan dan menentramkan hati.

kosan, 18:38. aku dibangunkan teman karena tertidur selepas ashr. setelah shalat maghrib sendiri (telat jamaah), aku buru-buru bersiap untuk pergi ke resepsi pernikahan seorang senior. kami berdua belas berangkat dengan dua mobil dan disambut suasana macet malam minggu. sampai disana barulah sadar sesuatu. kami tidak menyiapkan kado maupun amplop! jujur niatnya sebatas ‘makan-makan’ dan ‘rame-ramean’. akhirnya seorang teman membeli amplop lalu kami sumbangan untuk mengisi ’saham’ di amplop itu. masuk ke gedung mulailah terasa ‘kebanting’. setelan kaos ditutup jaket plus sandal jepit ala mahasiswa membuat kami jadi tidak sebanding dengan acara di sana. atmosfer sunda dipadu teknologi modern seperti musik DJ dan set multimedia mengelilingi kami. fenomena klasik seperti kurangnya tempat duduk, campur baur, dan pakaian ‘terbuka’ masih dapat ditemui. sehabis membuat ‘kerusuhan’ (greeting-greeting, foto-foto, dan kuliner) kami pun pulang ke kampus, tempat berangkat dua jam sebelumnya.

pelajaran 4: dilarang tidur selepas ashr, karena rawan melewatkan waktu maghrib dan dapat menyebabkan ‘kegilaan’.

pelajaran 5: dalam rangka apapun, persiapkan sesuatu dengan sebaik-baiknya. suatu yang dipersiapkan saja masih mungkin berjalan tidak semestinya, apalagi yang tidak dipersiapkan.

pelajaran 6: tentang adab walimah:
1. niat untuk ibadah
2. menjauhi kemaksiatan
3. tidak bernuansa syirik dan khurafat (adat yang menyimpang)
4. tidak ikhtilat (bercampur) antar tamu pria dan wanita
5. menghindari hiburan yang merusak nilai ibadah
6. tidak melakukan perbuatan mubazir (berlebihan)
7. mendo’akan pengantin
8. mengundang kerabat, masyarakat sekitar, fakir-miskin sedaerah, dan kenalan
jika dihubungkan dengan acara walimah, etika makan-minum yang harus diperhatikan adalah:
1. tidak makan-minum sambil berdiri (standing party)
2. tidak berlebih-lebihan (jangan ‘mumpung’ ada banyak makanan)

masjid salman, 22:00. kebetulan hari itu juga ada acara mabit ashhabul quran. walaupun telat datang, tapi aku masih sempat menangkap sedikit materi di kajian malam. dini harinya seperti biasa dilakukan qiyamullail (jamaah) dan tilawah (mandiri). mabit ditutup dengan kuliah shubuh hingga sekitar pukul 06:00.

pelajaran 7: [materi kajian malam] rizqi itu yang terpenting bukanlah banyaknya, tapi nilai keberkahan yang menyertainya. jadikan potensi diri, walaupun sedikit, sebagai jalan untuk memfasilitasi rizqi orang lain sebanyak-banyaknya.

pelajaran 8: waktu dini hari selepas qiyamullail bisa menjadi strategi untuk memenuhi target tilawah. jika diperkirakan waktu siang akan padat dan melelahkan, tilawah bisa dilakukan di akhir malam. qiyamullail jalan, tilawah cukup, bacaan quran pun lebih berkesan di waktu malam. dengan bayaran: kurangi tidur.

pelajaran 9: [materi kuliah shubuh] ada tujuh tingkatan nafsu: nafsu amarah (nafsu hewani yang akan jadi buruk jika tidak diarahkan), nafsu lawamah (penuh penyesalan karena baru menyesal saat/setelah melakukan perbuatan buruk), nafsu mulhamah (angin-anginan, jadi baik jika kondisi sekitar baik, jadi buruk jika kondisi sekitar buruk. secara umum ia baik, tapi kadang masih terbesit hal buruk dalam pikirannya), nafsu muthmainah (jiwa yang tenang yang djanjikan seperti pada QS Al-Fajr), nafsu radhiyah, nafsu mardhiyah, dan terakhir adalah nafsu kamilah. manusia, diluar para shahabat dan para nabi, bisa mencapai sampai tingkatan nafsu muthmainah. di tingkatan manakah kita berada?

gerbang ganesha, minggu 1 maret 2009, 06:19. aku meninggalkan salman sambil merenungi 24 jam waktu hidup yang baru saja kulalui. sembilan pelajaran penting mungkin terlalu sedikit. setiap orang memiliki modal waktu yang sama: 24 jam dalam sehari. bedanya terletak pada bagaimana memanfaatkannya dan berapa banyak pelajaran yang dapat diperoleh darinya.

orang yang hari ini sama dengan kemarin adalah orang yang rugi; orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah orang yang celaka; orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung.

Selasa, 17 Februari 2009

Petualangan di Tanah Haram

ini adalah kisah enam tahun lalu, saat aku menghabiskan waktu nyaris dua bulan (januari - februari 2003) di dua tanah haram, makkah al-mukarromah dan madinah al-munawwaroh. banyak cerita yang masih terekam di benak, namun kali ini aku hanya akan menuliskan secara garis besarnya terlebih dahulu. insyAllah jika ada keluangan, selanjutnya akan kutulis detail demi detailnya.

semua bermula ketika selepas mengaji (talaqqi quran) kepada ua (kakak ayahku, biasa kupanggil ‘abahnde’) bada isya. istri ua (biasa kupanggil ‘emak’) datang dan membuka pembicaraan. “imam, siap enggak berangkat haji tahun ini?” diahadapkan pada pertanyaan macam itu rasanya diri ini tidak pernah diajari kata lain selain “iya”. jadilah kami berenam (aku, abahnde, emak, seorang pamanku ‘kang judin’, dan dua orang sepupuku: asep dan abdul aziz alias ‘kai’) mendaftar, mengikuti proses administrasi, medical check-up, seminar, dan pelatihan haji.

keberangkatan dari rumah adalah bada shubuh menuju asrama haji bekasi, sebuah embarkasi karantina sambil menunggu kloter 31 lepas landas. disanalah aku pertama berinteraksi dengan orang-orang yang nantinya menjadi kawan-kawan selama haji. keluarga satu bilik apartemen haji di saudi arabia yang bersamanya aku berbagi suka-duka. rekan beribadah, beziarah, belanja, makan, memasak (kadang rasa masakan jadi gak karuan bahkan gosong), mencuci-menjemur baju di rooftop, saling menunggu giliran kamar mandi, berdiskusi, bercengkerama, dan banyak lagi (aku kangen mereka).

walaupun terbang sempat tertunda sehingga membuatku dan rombongan menginap di bandara soekarno-hatta, akhirnya kami mengudara dengan pesawat saudi arabian airlines no penerbangan sv-5181. aku duduk di kursi no 165 di sebelah sepupuku kai dan persis di samping pintu darurat serta di depan kursi dua pramugari yang cantik. inilah pertama kalinya aku naik pesawat terbang. rasanya ‘ndeso’ saat disuguhi makanan pesawat nan aneh, menggigil kedinginan akibat ac pesawat, dan mendapati toilet tanpa air. majalah-majalah bacaan yang tak kumengerti isinya jelas tidak menghilangkan bosan. beruntung aku bisa bersabar menjalani sepuluh jam penerbangan yang melelahkan itu.

sampai di bandara king abdul aziz di jeddah, saudi arabia, aku langsung berhadapan dengan antrean administrasi imigrasi. setelah itu, proses menunggu dilanjutkan dengan mencari koper bekal. beres semua, aku dan rombongan kemudian mandi lalu berihrom. saat itu mulailah aku berusaha membiasakan diri telanjang hanya memakai dua helai kain putih mirip handuk, satu disarungkan satu diselendangkan. akhirnya rombongan naik bus menuju kota makkah. aku duduk di bagian belakang sambil bersama-sama sepanjang jalan berseru ‘labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innalhamda wanni’mata laka wal mulk, laa syarikalak’.

setelah beberapa kali berhenti untuk istirahat, kami sampai di distrik aziziyah kota makkah. daar al-haramain, itulah nama apartemen yang kutempati. di maktab haji no 63 itu, aku sekeluarga satu kamar no 403 di lantai 4.

esoknya kami langsung menuju masjidil haram naik bis khusus jema’ah melewati gunung yang dilubangi menjadi terowongan. akhirnya aku lihat rumah tua itu, ka’bah. karena kami berhaji tamattu’ maka waktu itu kami melakukan umroh. diawali tawaf, kemudian sa’i, terakhir bercukur. tidak lupa mengunjungi sumur zamzam di basement lalu meneguk airnya.

usai umroh pertama itu, kami melakukan beberapa umroh lagi pada hari-hari berikutnya. selain bolak-balik ke masjidil haram, waktu menunggu pelaksanaan haji, yaitu wukuf 9 dzulhijjah, kami isi dengan berbagai kegiatan. keluangan ini kami manfaatkan untuk berziarah, belanja, kuliner, dan mengunjungi beberapa handai tolan yang bermukim di makkah.

aku dan dua sepupuku sempat hiking ke gunung tsur (jabal tsur). sampai di puncak, terlihat seluruh kota makkah. dan yang terpenting adalah kami mengunjungi gua tsur. sebuah gua yang menjadi saksi saat Rasulullah dan seorang sahabatnya yang paling setia yaitu abu bakr bersembunyi sewaktu dalam kejaran melaksanakan hijrah.

kami juga mendatangi gunung nur (jabal nur). gunung dimana terletak gua hira tempat wahyu pertama turun. sayangnya kami tidak dibolehkan mendaki dan masuk ke gua. abahnde bercerita dulu sewaktu beliau haji bahwa gunung itu terjal dan curam jadi berbahaya. terbayang Rasulullah yang sering menyendiri ke gua itu yang ternyata menempuh medan yang berat.

selain belanja di sekitar apartemen, aku juga sering belanja di sekitar masjidil haram. yang terkenal tentu pasar seng (karena dulu atapnya dari seng). ternyata di sana banyak pedagang yang mahir berbahasa indonesia. konon mereka rela belajar bahasa untuk memuluskan usaha sebab jamaah indonesia paling banyak jumlahnya dan gemar belanja. mall-mall mewah di sekitar masjidil haram pun kukunjungi. hebatnya jika masuk waktu shalat, mereka segera menutup toko bahkan tidak segan-segan mengusir pembeli. di tengah mall terdapat ruangan luas yang biasa dipakai untuk shalat berjamaah oleh orang seluruh mall. jauh beda dengan di indonesia.

berbicara kuliner, aku sangat menikmati makanan arab. untuk makanan berat, hal yang mencolok adalah porsi lauk yang lebih banyak dibandingkan nasi. cemilan wajibku sehari-hari adalah roti daging, pepsi, teh susu, dan roti bundar besar. namun pernah aku sangat rindu tempe hingga rela berputar-putar mencari tempe mentah dan membayar 6 riyal (15 ribu rupiah) untuk itu. sepupuku lebih parah lagi. ia rela membeli bakso semangkok kecil dengan harga 10 riyal (25 ribu rupiah).

tibalah saat ihrom haji. pertama kami berangkat ke arafah untuk wukuf, berkumpul di tenda selama seharian. lalu malamnya kami berangkat ke mina. berhenti sejenak tengah malam di muzdalifah mengumpulkan kerikil untuk lempar jumroh. sampai di tenda mina pada waktu sahur. jelang shubuh langsung kami berjalan sekitar 15 km menuju jamarot. setelah lempar jumroh aqobah itu kami pulang ke apartemen di makkah yang ternyata lebih dekat dari lokasi jamarot daripada ke tenda mina. karena kami mengambil nafar awal maka selama dua hari tiap bada ashar kami lempar tiga jamarot (ula, wustho, aqobah), bermalam di mina (sekitar jamarot) beralas tikar dan kembali ke apartemen setelah dini hari.

setelah itu, prosesi haji kami selesaikan dengan tawaf, sa’i, dan tahallul di masjidil haram. beberapa hari kemudian kami melakukan tawaf wada (tawaf perpisahan) dan bersiap meninggalkan makkah menuju madinah. kami akan berada di madinah selama delapan hari untuk shalat arba’in (40 kali berjamaah tanpa putus) di masjid nabawi (masjid tempat bermulanya peradaban islam) sekaligus ziarah ke kota Rasulullah.

siang hari kami berangkat ke madinah dengan bis. perjalanan cukup jauh, dan jarak itu pula yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabat saat hijrah. di tengah perjalanan kami melintasi pekuburan ma’la, tempat khadijah dimakamkan. sempat sekali istirahat untuk shalat jama zhuhur-ashr, akhirnya kami tiba di madinah waktu gelap. daar ash-shorof lantai 2, itulah apartemen baru kami.

di sela kesibukan ibadah arba’in, belanja tetap kulakukan, hanya saja tidak se’brutal’ seperti waktu di makkah. orientasi belanja sekarang bukanlah untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi untuk oleh-oleh. barang yang paling dicari adalah kurma dan kitab. sekali aku berkunjung ke pabrik pengolahan kurma, tempat kurma diubah menjadi berbagai produk seperti permen dan dodol.

ziarah pertama adalah ke pemakaman baqi’, tidak jauh dari masjid nabawi. disana disemayamkan para sahabat termasuk utsman dan ali. kemudian kami pergi ke medan uhud, tempat berkecamuk perang uhud dan meninggalnya para syuhada. masih berdiri kokoh sebuah bukit yang dahulu menjadi camp para pemanah yang kemudian melanggar perintah Rasulullah sehingga kaum muslimin berbalik terdesak.

kami juga berkunjung ke masjid quba, masjid yang pertama dibangun atas dasar taqwa. selain itu masjid qiblatain pun kami singgahi, tempat dimana turun perintah berpindah qiblat yang asalanya berqiblat ke masjidil aqsa menjadi ke masjidil haram (ka’bah).

akhirnya tiba waktuku untuk meninggalkan madinah dan juga saudi arabia. aku hanya bisa menitikkan air mata saat berpisah dari bilik yang tertutup tepat di bawah kubah hijau yaitu makam Rasulullah dan dua sahabatnya, abu bakr dan umar. rasa haru yang sama seperti ketika aku berbalik meninggalkan ka’bah di makkah.

pintu kepulanganku adalah bandara king fahd madinah. dengan dibekali sebuah mushhaf dan sedirijen kecil zam-zam pemberian pemerintah saudi, aku naik ke pesawat dari maskapai yang sama seperti keberangkatan. saat mesin pesawat berbunyi, aku berdo’a, selain agar sampai ke tanah air dengan selamat, juga agar Allah kembali memanggilku untuk datang lagi sebagai tamu-Nya di tanah suci suatu saat nanti.

siang itu kami sampai di bandara soekarno-hatta disambut keluarga yang datang menjemput.

demikian salah satu rangkaian momen paling berharga dalam hidupku. memori akan episode ini kutulis agar tidak hilang karena lupa. mudah-mudahan juga bisa mempertebal niat pembaca untuk melaksanakan ibadah haji, rukun islam yang ke-lima. amin, insyAllah.

Valentine: Romantisme Rendahan

ruang 9019 gedung oktagon itb, kamis 12 februari 2009, 13:00. waktu itu kuliah filsafat ilmu, saat secarik kertas ukuran a4 sampai ke meja saya. lembaran itu berisi publikasi layanan ucapan valentine yang dikemas menjadi paket-paket dengan harga tertentu. jadi jasa itu menawarkan untuk memberi ucapan kepada target dengan berbagai cara. contoh paketnya antara lain seperti lagu+ucapan, lagu+ucapan+cokelat, dan sebagainya. sambil membaca sambil merenung, masih saja orang-orang membuang waktu untuk anggapan romantisme yang sia-sia ini. kemudian saya coba menggali segala hal tentang valentine di benak ini.

satu, valentine adalah perayaan romawi berkenaan dengan mitos peristiwa ‘penyusuan’ romulus -pendiri romawi- oleh seekor serigala betina. perayaan ini dilakukan dengan darah domba dan anjing yang dilumurkan kepada dua pemuda. kemudian darah itu dicuci dengan susu. setelah itu keduanya berlari sambil mencambuki para wanita yang ditemuinya sebagai tuah kesuburan. kesimpulannya: pagan

dua, valentine adalah prosesi perjodohan. wanita-wanita yang cukup umur akan menuliskan namanya di kertas kemudian pria-pria akan mengambil sebuah kertas. setelah itu nama yang muncul akan menjadi pasangannya untuk ’saling melayani’ selama setahun. jika cocok mereka akan menikah. jika tidak maka prosesi itu akan berulang pada tahun berikutnya. kesimpulannya: maksiat

tiga, valentine adalah hari raya untuk memuja dewi juno (dewi cinta orang romawi). kesimpulannya: syirik

empat, valentine adalah untuk mengenang ‘orang suci’ kristen yang dihukum mati. ia dihukum karena menentang kaisar waktu itu yang melarang pemuda menikah dengan alasan jika tidak menikah mereka akan menjadi prajurit yang tangguh. atau dalam versi lain ia dihukum karena menyeru kepada agama kristen. kesimpulannya: perayaan agama lain

lima, valentine adalah berasal dari bahasa latin berarti, ‘yang maha perkasa’, yang ditujukan kepada nimrod dan lupercus, tuhan orang romawi. sedangkan cupid (bayi comblang) adalah anak nimrod. kesimpulannya: syirik

enam, valentine adalah tahayul orang eropa yang meyakini bahwa tanggal 14 februari adalah hari saat kasih sayang bersemi. kesimpulannya: khurafat

tujuh, valentine sekarang menjelma menjadi gaya hidup kebarat-baratan, hura-hura, dan pergaulan bebas. seolah hal ini menjadi ideologi baru bagi kaum muda yang berimbas pada rusaknya moral. kesimpulannya: even seperti ini menjauhkan generasi muda muslim dari nilai-nilai islam yang dibawa oleh al-qur’an dan sunnah.

bukankah tidak ada salahnya mengungkapkan kasih sayang? ya, tapi jika tergantung pada even seperti ini jelas akan langsung terkait pada latar belakangnya yang buruk itu (tujuh paparan di atas). jika bicara soal kasih sayang, jelas islam adalah agama yang penuh kasih sayang. cukuplah kita berkasih sayang dengan landasan islam, dan tidak perlu lagi memikirkan hal konyol macam valentine.

Maka seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia berhasil mencintai sesamanya laksana dia mencintai dirinya sendiri [HR Muslim]

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. [QS Al-Hujurat (49) : 7]

lama saya menahan kertas itu di tangan sambil berpikir tentang hal-hal di atas. sampai-sampai sepertinya teman sebelah meja mengira bahwa saya akan memesan paket valentine tersebut. akhirnya saya berikan kertas itu ke sebelah dan saya kembali fokus ke kuliah filsafat yang ternyata menarik.

Sabtu, 24 Januari 2009

Tafakkur Tentang Bintang

gerbang sr, sabtu, 24 januari 2009, 20:45, sebungkus nasi goreng terjinjing di tangan kanan dan sebotol ‘fruit tea’ tergenggam di tangan kiri. usai isya’ dan makan malam, aku dalam perjalanan kembali ke lab sambil membawa makanan titipan teman. waktu itu hujan, sedang, tidak gerimis serta bukan deras.

jaket terasa lebih berat karena basah sedangkan ubun-ubun kubiarkan terbuka menerima hantaman air hujan. sekalian saja kumenengadah ke langit agar wajah juga ikut terbasuh. terpandang langit tanpa bintang. tiba-tiba aku rindu bintang. rangkaian bintang yang membentuk rasi gubuk -begitulah aku menjulukinya- yang biasa kulihat di rumah.

tiap libur semester aku selalu menyempatkan pulang. pada perioda-perioda itu, selepas isya’ di masjid depan rumah, kucari rasi bintang gubuk kemudian kulirihkan bait-bait mimpi, harapan, dan janji untuk memandangnya lagi di kesempatan berikutnya. tapi di libur akhir semester 7 ini aku belum sempat pulang untuk menemuinya.

agaknya bodoh juga, apa gunanya melontarkan targetan satu semester menjelang, satu tahun menjelang, satu dekade menjelang, satu masa depan menjelang kepada bintang. salah-salah bisa terjerumus syirik. kupikir lebih baik kali ini aku mentafakkuri makhluq Allah itu. untuk apa diciptakan? bagaimanakah sifatnya? apa hubungannya dengan manusia?

di sebuah ayat, Allah bersumpah dengan bintang. berdasarkan kaidah tafsir, jika Allah bersumpah menggunakan makhluqNya maka hal itu mengisyaratkan pentingnya makhluq tersebut. penyertaan bintang pada sumpah-sumpah Allah menunjukkan pentingnya makhluq yang satu ini. oleh karena itu kita harus memperhatikan dan mengambil pelajaran darinya. bukankah di antara ciptaan-ciptaan Allah itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal?

Allah mendeskripsikan makhluqNya berupa bintang dalam empat bentukan kata, yaitu: najm, buruj, kawkab, dan mishbah. najm berarti benda langit yang bercahaya selain matahari dan bulan. buruj berarti kelompok atau gugusan atau rasi bintang. kawkab berarti benda langit yang bercahaya paling terang setelah matahari dan bulan. sedangkan mishbah berarti pelita atau sumber cahaya. adapun tujuan diciptakannya bintang dapat disimpulkan menjadi tiga hal, yaitu: hiasan langit, pelempar syetan, dan penunjuk arah.

kemudian rasio liarku berputar, mungkinkah insan bisa meneladani bintang? apakah bisa menjadi najm yang memiliki sinar? adakah bisa menjadi buruj yang sinergi dengan partner lain sehingga membentuk gugusan kerja sama yang lebih indah? sanggupkah menjadi kawkab yang jika dibutuhkan dapat menjelma sebagai yang-paling-terang untuk membimbing dan memimpin yang lain? kuatkah menjadi mishbah yang menjadi penjaga semangat dan penghidup asa, sumber cahaya di kala yang lain mulai redup atau bahkan mati?

ibarat hiasan, keberadaannya memperindah komunitas dan memberi persepsi yang baik bagi teman-temannya. sebagai pelempar syetan ia akan berusaha menjauhi dan menjauhkan keburukan akibat godaan syetan. di kala kebaikan dapat diperoleh dan keburukan dapat dihalau, ia akan menunjukkan arah kemana melangkah dalam mencapai cita-cita dan tujuan bersama.

bila ada manusia seperti bintang, maka kepada dialah kusampaikan mimpi, harapan, dan janji. jika ada seorang seperti itu, maka ia-lah yang lebih kurindukan ketimbang rasi bintang gubuk di rumahku.

Rabu, 21 Januari 2009

Arti Diri Ini

quote:
"kadang ingin tau siapa yang kehilangan dan merasakan bahwa saya berarti..."

tiga orang di atas dua motor melaju di tengah gemerlap malam kota bandung. aku berada di salah satunya, dibonceng salah seorang temanku. selasa, 20 januari 2009, 21:30, kami meninggalkan cafe 'double steak', tempat kami berwisata kuliner hari itu. suasana lengang jalanan -yang biasanya padat sewaktu siang- menggoda kami untuk berkeliling sebelum pulang ke kosan. belokan pertama, sepasang bapak-anak tidur di teras pertokoan beralas bantal dan berselimut kain tipis seolah tempat itu sudah menjadi rumah bagi mereka. belokan kedua, seorang ibu tua duduk sendirian menghadapi sewadah panganan yang dijualnya. belokan ketiga, jajaran wanita menjajakan diri kepada tiap orang dan kendaraan yang lewat, dan kami pun menjadi sasaran lambaian tangan salah satu wanita itu. ternyata inilah realita kota bandung.

kusadari lagi, kota bandung begitu luas, jauh lebih luas dari kota asalku -cilegon-, dan aku mungkin hanya setitik buih di sela-selanya. sosok-sosok manusia yang berlalu-lalang yang tertangkap oleh retinaku, tak ada satupun yang istimewa begiku, mereka bukan siapa-siapa untukku. sama kasusnya dengan diriku, aku sama sekali tidak istimewa bagi mereka, aku bukan siapa-siapa untuk mereka. apalah awak ini kan.

lalu kuperkecil lingkup pemikiranku. kali ini scope-nya hanya mencakup orang-orang yang dekat dan kenal serta berinteraksi denganku: keluarga, teman, dan tetangga. sejauh apa aku mengartikan mereka dalam hidupku? apakah aku memiliki arti di kehidupan mereka?

aku percaya takdir. aku percaya Allah mengizinkanku lahir bukanlah suatu kesia-siaan. maha bijaksana Allah tidak akan menciptakan sesuatu yang sia-sia. aku percaya Allah menempatkanku di tengah komunitas ini bukanlah suatu beban bagi yang lain. maha suci Allah tidak akan menzhalimi makhluqnya. tinggal bagaimana ikhtiar untuk membuat diri ini berarti dan membuat orang-orang di sekitar memiliki arti bagiku.

tapi, seberapa berartinya diriku bagi mereka, itu tidak terlalu penting buatku. aku hanya ingin mengartikan mereka dalam hidupku. yang dengan berartinya mereka itu memberiku motif untuk terus berjuang. aku tak peduli apakah aku penting bagi seorang teman. aku hanya ingin ia menjadi bagian penting dari diriku sehingga memberiku kekuatan untuk memaknai hidupku. walaupun mereka bukan hidup untukku, tapi aku akan hidup untuk mereka.

mengapa? karena mereka adalah anugerah Allah untukku. jika bukan dengan mereka lalu dengan siapa lagi aku akan berinteraksi? jika tidak mencintai mereka lalu siapa yang harus aku cintai? aku ingin bersyukur dengan cara melindungi kebahagiaan mereka.

suatu saat, aku ingin memperluas jangkauan keberartian itu. suatu saat, aku ingin umat ini menjadi berarti bagiku. namun seperti halnya meniup balon, untuk membuatnya menggelembung lebih besar dibutuhkan tenaga dan tiupan yang lebih banyak. butuh kapasitas lebih untuk bisa melindungi kebahagiaan umat. dan aku akan mulai bermimpi untuk bisa mencapai kapasitas itu.

backsound: surrounded - dream theater

Selasa, 13 Januari 2009

Dengan Apa Lagi Aku Harus Mensyukurinya?!

reff:
masjid salman, rabu, 14 desember 2008, 3:25am, dinginnya malam membangunkanku dari lantai kayu tempat merebahkan diri waktu itu. aku bergegas keluar bersuci dan mendapati sisa hujan yang ternyata mengguyur bumi pada malam ini dan membuat suasana demikian beku. dengan sesekali gemetar menahan dingin, kuselesaikan sebelas raka'at di tengah sunyi yang kadang terusik oleh dengkuran sporadis jama'ah yang kebetulan juga menginap di masjid.

empat setengah jam sebelumnya, selasa, 13 desember 2008, 23:00pm, aku keluar dari lab ic-design pau lantai 4 menuju masjid salman dengan niat untuk mengikuti acara mabit. sambil mengulang hafalan menyusuri jantung kampus itb, perhatianku tertuju pada 'kerusuhan' di oktagon dan comlabs yang ternyata acara ospek jurusan dari teman-teman program studi tambang. saat melewati cc (campus center), kulihat orang masih sibuk menggunakan fasilitas 'internet bediri' disana. kemudian di antara lapangan voli-basket dan lapangan cinta ada kerumunan yang sepertinya adalah panitia olimpiade itb. aku sampai di tujuan pertama yaitu gerbang ganesha dimana teman akan datang untuk mengambil scratch sheet yang kucorat-coret di lab sebagai tugas project kuliah (hari gini belum kelar semester).

sesampainya di masjid, acara diskusi masih berjalan. karena lelah, mata ini tidak mau kompromi sehingga langsung saja aku tidur mengabaikan pembicaraan tersebut. agak kecewa sebab saat dini hari tiba, qiyamullail bersama ustadz ternyata tidak jadi diadakan.

kembali ke reff.

usai witir aku tidak bisa tilawah seperti biasanya karena ternyata aku tidak membawa mushhaf. agar tidak ketiduran saat sedang menunggu shubuh, waktu kuisi dengan renungan sederhana tentang syukur.

aku bersyukur atas nikmatMu yang menghidupkanku hari ini. aku akan mensyukurinya dengan memanfaatkan hari ini sebaik mungkin.

aku bersyukur atas nikmatMu yang membangunkanku di waktu sahur. aku akan mensyukurinya dengan qiyamullail.

aku bersyukur atas nikmatMu yang menggerakan hatiku untuk qiyamullail. aku akan mensyukurinya dengan do'a agar aku istiqomah.

aku bersyukur atas nikmatMu yang membuatku bisa bersyukur atas nikmatMu. aku akan mensyukurinya dengan... enghh...

ya Allah, jika perasaan syukur ini dan daya dukung untuk mewujudkan syukur tersebut adalah juga bentuk nikmat dariMu, maka dengan apa lagi aku harus mensyukurinya?! sungguh hamba ini faqir dihadapanMu.

adzan shubuh berkumandang meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.

Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang saleh [QS An-Naml (27) : 19]