Senin, 23 Maret 2009

Tafakkur Tentang Bintang (reloaded)

kosan, kamis, 5 maret 2009, 21:48, aku pulang setelah sebelumnya berada di lingkar mentoring. kuraih satu buku dari tengah tumpukan buku tanpa rak di kamarku. “tafsir fi zhilalil qur’an -di bawah naungan qur’an-” jilid 12 (juz 29) karya sayyid quthb terbitan robbani press, itulah judulnya. malam itu ia jadi temanku menyantap makan malam yang agak terlambat.

alasan kupilih buku tersebut adalah karena tugas pekan depan menyampaikan tentang surat yang sudah dihafal: al-mulk. scanning cepat sontak menjadi lambat saat bertemu penjelasan ayat 5:

“sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang” [QS Al-Mulk (67) : 5]

teringat tulisanku ‘tafakkur tentang bintang’ yang berisi kesanku pribadi tentang bintang. kali ini aku menghadapi sebuah kesan yang mendalam tentang bintang dari seorang sayyid quthb. berikut kukutip langsung.


pemandangan bintang-bintang di langit memang sangat indah. hal ini tidak diragukan lagi. suatu keindahan yang memikat hati. keindahan yang senantiasa baru dan beraneka ragam bentuknya seiring dengan perbedaan waktunya. keindahan pemandangannya berbeda-beda mulai dari pagi sampai petang, mulai dari terbit sampai tenggelam, mulai dari malam yang purnama sampai kepada malam yang gelap. dan berbeda-beda pula cuacanya mulai dari cuaca yang jernih sampai kepada cuaca yang berkabut dan berawan. bahkan pemandangannya berbeda-beda dari satu saat ke saat yang lain, dari satu teropong ke teropong yang lain, dan dari satu sudut ke sudut yang lain. semuanya indah dan semuanya memikat hati.

bintang kejora yang betengger nun jauh di sana sendirian, terlihat bagaikan mata yang indah berkilauan, cahayanya memancarkan kecintaan dan seruan!

dan di sana ada dua bintang yang terpisah dari lainnya, seakan-akan terbebas dari keramaian, seakan-akan keduanya sedang berbicara secara rahasia!

kumpulan bintang-bintang yang tersebar di sana-sini dalam gugusannya masing-masing, seakan-akan mereka berada dalam riungan bergadang di pesta besar langit raya, mereka berkelompok dan terpisah-pisah seakan-akan menemani malam hari dalam suatu perayaan.

angkasa yang luas ini tidak membuat pandangan mata bosan menatapnya, dan pandangan mata tidak dapat menjangkau keseluruhannya.

al-qur’an mengarahkan jiwa manusia untuk menatap keindahan langit dan keindahan semesta alam seluruhnya, karena mengetahui keindahan alam wujud merupakan sarana yang paling singkat dan paling benar untuk mengetahui keindahan Pencipta alam wujud ini. dan pengetahuan inilah yang bisa mengangkat martabat manusia sampai kepada cakrawala tetinggi yang dapat diraihnya. karena pada saat itu dia sampai kepada titik yang disitu dia bersiap untuk menjalani kehidupan yang kekal, di alam yang bebas lagi indah, bersih dari pencemaran alam bumi dan kehidupannya. dan sesungguhnya detik-detik paling bahagia di hati manusia ialah detik-detik saat dia berinteraksi dengan keindahan kreasi Ilahi yang ada di alam ini. itulah detik-detik yang mempersiapkan dan memudahkannya untuk berhubungan dengan keindahan Ilahi, yaitu Dzat-Nya yang kelak ia lihat dan ia tatap.

usai paragraf itu, reflek aku mendongak ke atas. namun yang tampak adalah langit-langit kamar diterangi lampu. tidak ingat apakah ada aktivitas lain yang kulakukan setelah membaca buku itu, ataukah aku langsung rebah tidak sadarkan diri.